Menggapai Kebersihan Hati

Posted on Maret 5, 2009

0


Pengertian Hati yang Bersih

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa hati yang bersih adalah hati yang selamat dari kesyirikan, sifat dengki, dendam, sombong, hasad, bakhil, cinta kepada dunia dan kududukan; selamat dari segala penyakit yang menjauhkannya dari Allah ‘azza wa jalla; selamat dari kerancuan-kerancuan berpikir yang akan merintangi berbuat kebaikan; selamat dari setiap hawa nafsu yang menyelisihi perintah-Nya ‘azza wa jalla; selamat dari semua keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla; serta selamat dari sesuatu yang memutuskan hubungan dirinya dengan Allah ‘azza wa jalla.[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hati yang bersih dan terpuji adalah hati yang menghendaki kebaikan. Bersihnya hati tersebut akan bisa tercapai dengan sempurna bila kita mengetahui kebaikan dan keburukan. Ketidaktahuan seseorang akan keburukan merupakan bukti kekurangan dirinya.”[2]

Ibnul Qayyim –salah seorang murid Ibnu Taimiyah- menambahkan penjelasan yang lebih gambling; dia berkata, “Ada perbedaan mendasar antara hati yang bersih dengan hati yang kotor, yang teperdaya, yang lalai. Hati yang bersih selamanya tidak akan menhendaki keburukan sedikit pun, sehingga ia pun akan selamat dari keburukan tersebut. Hati yang lalai adalah hati yang dimiliki oleh orang jahil dan kurang pengetahuannya. Hati yang lalai merupakan sesuatu yang tidak terpuji, bahkan ia merupakan sesuatu yang tercela. Sedangkan seseoran akan dikatakan baik bila terhindar dari keadaan seperti itu.”[3]

Kiat-Kiat Menggapai Kebersihan Hati

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menggapai kebersihan hati. Setiap orang bisa melakukannya asal ada tekad dan kemauan. Dengan segenap kemampuan yang dimilikinya dan disertai dengan melaksanakan hal-hal yang mengantarkan ke sana, dengan izin Allah seseorang akan mampu untuk menggapai kebersihan hati yang didambakannya.

Di antara perkara-perkara yang dapat menghantarkan kepada kebersihan hati:

1. Ikhlas

Dari Zaid bin Tsabit radliallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah bersabda, “Tidak aka nada kedengkian sedikit pun pada hati seorang muslim, manakala terdapat padanya tiga perkara, yaitu keikhlasan dalam beramal, member nasihat kepada para pemimpin, dan berpegang kepada jama’ah kaum muslimin, karena doa mereka menyertainya.”[4]

Ibnu Al-Atsir rahimahullah mengomentari hadits tersebut, “Bahwa dengan tiga perkara tersebut, -yaitu memurnikan keikhlasan, mau member masihat dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi- hati akan menjadi baik. Maka, barangsiapa yang berpegang teguh dengan tiga hal tersebut hatinya akan bersih dari khianat, dengki dan keburukan lainnya.”[5]

2. Ridha dengan Ketentuan Allah

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Keridhaan akan membuka pintu keselamatan bagi seorang hamba, dan akan membersihkan hati dari tipu daya, hasad dan dengki. Sesungguhnya tidak ada yang bisa selamat dari siksa Allah ‘azza wa jalla kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih; dan tidak mungkin hati bisa menjadi bersih tanpa diiringi dengan keridhaan. Semakin bertambah perasaan ridha seseorang maka akan semakin bersih hatinya. Hati yang bersih dan kebaikan yang menyertainya akan muncul beriringan dengan keridhaan; sebaliknya kejahatan, kedengkian dan khianat juga akan muncul beriringan dengan rasa kecewa dan rasatidak ridha. Hati yang hasad merupakan buah dari rasa kecewa, sedang hati yang bersih adalah buah dari rasa ridha.”[6]

Karena itulah dikatakan, “Seseorang pendengki adalah musuh dari nikmat Allah ‘azza wa jalla, sebab rasa dengki pada hakikatnya merupakan salah satu bentuk penentangan terhadap pemberian Allah ‘azza wa jalla. Seorang pendengki membenci nikmat Allah ‘azza wa jalla yang ada pada orang lain yang Allah cintai. Seorang pendengki akan merasa senang kalau nikmat tersebut jilang dari orang tersebut. Dengan demikian, dia telah menentang takdir dan ketentuan Allah.”[7]

3. Membaca dan Merenungkan Ayat-ayat Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah obat penawar bagi segala penyakit. Orang yang merugi adalah orang yang tidak mendapatkan obat dengan diturunkannya Al-Qur’an.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”[8]

Al-Qur’an adalah obat yang mujarab bagi semua penyakit hati dan beban; juga bagi penyakit dunia dan akhirat, Ibnu Qoyim berkata, “Bagaimana mungkin penyakit-penyakit itu mampu menghadapi firman Allah, yang jika diturunkan kepada gunung-gunung, maka gunung-gunung itu akan hancur; dan bila ditunkan kepada bumi, maka bumi itu akan terbelah. Semua penyakit, baik penyakit hati atau badan telah ditunjukkan jalan penyembuhannya dan upaya pencegahannya, bagi mereka yang diberi Allah ‘azza wa jalla pemahaman tentang Al-Qur’an.”[9]

4. Shadaqah

Shadaqah bisa membersihkan hati dan menyucikan jiwa seseorang. Oleh sebab itu, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kepada Nabinya Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”[10]

Orang sakit yang paling berhak untuk mendapatkan pengobatan adalah orang yang sakit hatinya; sedangkan hati paling berhak untuk diobati adalah hatimu sendiri, sebab pada hari kiamat kelak setiap jiwa akan membela dirinya sendiri.[11]

5. Doa

Seorang hamba hendaknya selalu berdoa kepada Rabb-nya, untuknya dan saudara-saudaranya; agar diberi hati yang bersih. Begitulah kebiasaan orang-orang yang shalih. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Orang-orang yang datang sesudah mereka, yaitu (kaum Muhajirin dan Anshor) berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami; dan janganlah Engkau membiarkan adanya sifat dengki dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”[12]

6. Puasa Tiga Hari dalam Satu Bulan

Tentang hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian aku kabarkan sesuatu yang bisa menghilangkan kedengkian hati? Berpuasalah kalian tiga hari dalam satu bulan.”[13]

Puasa adalah suatu amalan yang bermanfaat untuk meredakan kekuatan syahwat dan amarah, serta melemahkan keinginan balas dendam. Dan puasa tersebut –dengan izin Allah- kiranya cukup untuk menghilangkan kemarahan, serta rasa dendam.

7. Nasihat

Nasihat merupakan salah satu sebab bersihnya hati dari rasa iri dan dengki. Orang yang memberikan nasihat harus meluruskan niatnya dan tidak merasa berat dalam menasihati dan mengingkari pelaku kesalahn. Untuk menampakkan kebenaran; bukan menunjukkan cela, merendahkan, atau menunjukkan kekurangan serta kebodohan yang dinasihati.

Bila suatu nasihat disertai dengan celaan dan tindakan buruk lainnya, maka tidak diperbolehkan, baik yang diberi nasihat itu dihadapannya atau tidak, apakah masih hidup atau sudah meninggal.[14]

Ibnu Hazm berkata, “Jikaengkau member nasihat dengan syarat harus diterima, maka engkau adalah orang yang dzalim.”[15]

Ibnul Qayyim berkata, “Ada perbedaan antara orang yang benar-benar pemberi nasihat dengan tukang pencela. Pemberi nasihat tidak akan marah kalu orang yang dinasihati tidak menerima nasihatnya; dan akan berkata. “Kamu terima atau tidak, aku telah mendapatkan pahala dari Allah ‘azza wa jalla.” Dia pun akan mendoakan (orang yang dinasihatinya-pent.) di kala sendirian, tidak menyebutkan aib-aibnya, dan juga tidak menyampaikannya kepada orang lain. Berbeda dengan tukang pencela, yang akan bertindak sebaliknya.”[16]

8. Saling Memberi Hadiah

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya akan saling mencintai.”[17]

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Rasulullah biasa menerima hadiah, dan menganjurkan umatnya untuk itu (saling member hadiah –pent.). sungguh, pada tindakan beliau terdapat suri-tauladan yang baik. Hadiah akan menimbulkan rasa cinta serta menghilangkan permusuhan.”[18]

9. Menyebarkan Salam

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surge sebelum kalian beriman; dan kalian belum dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan, maka akan timbul rasa cinta di antara kalian? Sebarkanlah salam di antara kalian!”[19]

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Ini merupakan dalil tentang keutamaan salam. Yaitu akan menghapus kebencian dan menumbuhkan rasa kasih sayang di antara mereka.”[20]

10. Berprasangka baik Terhadap Sesama Muslim

Ada riwayat dari Umar bin al Khatab radhiallahu ‘anhu, bahwasanya beliau pernah berkata, “Janganlah kamu berprasangka terhadap ucapan saudaramu kecuali dengan prasangka yang baik, karena bisa saja kamu akan mendapatkan jalan kebaikan pada ucapannya itu.”[21]

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Barangsiapa menghendaki Allah ‘azza wa jalla tetapkan kebaikan kepadanyam maka berprasangka baiklah kepada sesama manusia.”[22]

Itulah sebagian dari cara-cara untuk menghilangkan penyakit hati yang masih banyak menimpakita; yang perlu dilakukan perbaikan dan pembersihan. Kita memohon kepada Allah –Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang-, yang menguasai hati para hamba; untuk selalu meneguhkan hati kita dalam menjalankan agama-Nya Azza wa Jalla dan membersihkannya dari segala penyakit. Wallahu a’lam.

Catatan kaki:

[1] Kitab Al-Jawabul Kaafi, oleh Ibnul Qayyim: 126.
[2]Kitab Majmu’ Al-Fatawa, oleh Ibnu Taimiyah: 10/302.
[3] Kitab Al-Jawabul Kaafi, oleh Ibnul Qayyim: 126.
[4] Riwayat Ahmad: 5/183, dan dishahihkan Al Albani dalam Kitab Al-Misykat no: 229.
[5] Kitab An Nihayah fi Ghoribil Hadits: 3/38.
[6] Kitab Madarijis-Salikin: 2/216.
[7] Kitab Al-Fawaaid: 282.
[8] QS. Yunus: 57. Lihat pula QS. Fushilat: 44 dan QS. Al-Isra’: 282.
[9] Kitab Zaadul Ma’ad, oleh Ibnu Qayyim: 352.
[10] QS. At-Taubah: 103. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, shallallahu ‘alaihi wasallam (Hadits dihasankan Albani dalam Shahih Jami’ no: 3358).
[11] Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah ‘azza wa Jalla, “(Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri…”(QS. An-Nahl: 111).
[12] (QS. Al-Hasyr: 10) dan sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa: “Waslul sakhiimata qalbiy “(Wahai Allah), hapuskanlah kedengkian yang ada dalam hatiku.”
[13] Shahih An-Nasa’i: 2358, 2386.
[14] Kitab Al-Farq Baina An-Nashihah wa At-Ta’yiir: 35.
[15] Kitab Mudawatu An-Nufus: 110.
[16] Riwayat Bukhari dan Muslim
[17] Hadits Hasan, Kitab Irwa’ mo: 1601.
[18] Kitab Tamhid: 21/18.
[19] Riwayat Muslim no. 54, Tirmidzi no.2688, Abu Dawud no.5193, Ibnu Majah no.3692.
[20] Kitab Tamhid 6/128.
[21] Tafsir Ibnu Katsir 4/212.
[22] Bustanul-Arifin: 32.

Penulis: Ustadz Abu Husam M. Nurhuda

Disalin dari Majalah Fatawa Vol. 01/ I/ Ramadhan 1423 H – 2002 M, hal. 46-50.

Sumber: http://www.cambuk-hati.web.id

Iklan
Posted in: Taskiyatin Nufus